Rumus Bahagia

Seperti pertanyaan legendaris lebih dulu mana antara telur atau anak ayam, menurut kalian sukses dulu baru bahagia atau bahagia dulu baru sukses? Apapun jawabannya menurut saya sah-sah aja karena semua tergantung pada mindset kita masing-masing. Karena jika kita selalu memperdebatkan dalil mana yang paling benar kita hanya akan buang-buang waktu untuk sebuah debat kusir tak berujung.

Kalo menurut saya, sepanjang pengalaman hidup saya hingga detik ini saya akhirnya menempatkan diri di team #bahagiadulubarusukses. Ya, dulu saya adalah seorang pendukung kubu #suksesdulubarubahagia tapi entahlah rasanya bahagia itu sulit untuk dipenuhi. Bukan karena tidak bersyukur, tapi jika mindset kita adalah sukses dulu baru bahagia maka ketika kita sudah mencapai suatu tahap kesuksesan sungguh manusiawi sekali pasti kita akan berharap lebih sehingga yang tadinya kita sudah menetapkan kadar kebahagiaan di level tersebut maka kita harus menunda untuk berbahagia. Akan tetapi, ada beberapa tipe orang yang bahagia dengan keadaan seperti ini dan menurut saya itu sah aja kalo memang mindset seperti itu justru bikin hidupnya lebih hidup.

Bagi saya, paling tidak untuk saat ini saya merasa lebih baik untuk bahagia dulu baru kita bisa meraih sukses. Terkadang hidup tidak selalu sesuai pesanan kita, Tuhan selalu punya skenario terbaik untuk hidup kita. Hanya saja kita yang seringkali belum bisa menerima atau melihat hikmah dari suatu kejadian. Siapa yang merasa hidupnya sedang dibawah? Dililit hutang, hidup dari bulan ke bulan menyelesaikan tanggung jawabnya walaupun tertatih-tatih? Mungkin ada yang kecewa saat pengumuman PPDB karena tidak diterima di sekolah impiannya? Mungkin ada single parent yang berjuang menata kembali hidupnya setelah melalui proses perceraian yang panjang dan melelahkan? Mungkin ada yang hampir putus asa karena mengalami penolakan berkali-kali saat melamar kerja? Mungkin ada yang ketar-ketir belum menemukan jodoh sambil berpacu dengan waktu? Atau mungkin ada yang tengah berjuang untuk bertahan hidup melawan penyakit kritis? Kamu gak sendiri. Paling gak, saya juga mengalami itu. Dan buat saya, saya tidak berdiam diri meratapi nasib, saya berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut satu per satu. Tapi, ketika hati kita terluka dan memendam rasa (sedih, iri, marah, kecewa, atau dendam) kita akan sulit untuk mendapatkan solusinya.

Menurut saya, tidak apa-apa jika kita memberi waktu untuk diri kita sendiri berdamai dengan rasa. Peduli setan orang-orang yang mencemooh dan menyebut kita membuang waktu karena toh kita tidak akan keman-mana juga jika kita selalu memendam semua rasa itu. Jika perlu, menangislah jika memang itu membuatmu lega. Lalu, carilah hal-hal yang bisa membuat kita tersenyum dan bahagia. Jika kamu punya pasangan yang bisa membuatmu tertawa dan merasa bahagia, nikmatilah lebih banyak waktumu bersamanya. Jika bermain bersama anak membuatmu jadi orang paling bahagia di dunia ini, bermainlah sepuasnya. Jika melihat orang tua kita tersenyum saat liburan singkat bersama, maka pergilah liburan bersama keluargamu. Karena ketika hati kita bahagia, energi positif terpancar ke seluruh penjuru bumi ini dan tunggulah kelak apa yang kita impikan perlahan sedang mendekat ke arah kita. Jika hal yang kita impikan terwujud, bukankah itu juga adalah sebuah bentuk kesuksesan? Jadi, yuk mari kita mulai berbahagia sejak detik ini juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.